1. SAPI ABERDEEN-ANGUS
Sapi aberdeen Angus Berasal dari suatu daerah dataran tinggi Abardeen Shire dan Aungushire di Skotlandia, kemudian popular dengan sebutan Aberdeen Angus. Ciri khas sapi ini berkulit hitam pekat sehingga namanya mudah diingat dengan sebutan sapi Angus karena dalam bahasa Indonesia Angus=hangus, gosong.
Sapi ini tidak bertanduk dan berpunuk. Penampilannya pendek, bulat, lincah aktif bergerak. Bobot sapi betina dewasa mencapai 550-750 kg, sedangkan yang jantan mencapai 800-1.000 kg.
Bangsa sapi ini banyak digunakan pada crossbreeding dan grading up untuk menghasilkan sapi potong yang baik. Jika sesame bangsa sapi angus dikawinkan dengan seperempat dari keturunannya, warna tubuhnya akan berubah menjadi merah dan tidak bertanduk (red angus).
Sifat sapi Aberdeen Angus adalah Dominan. Sehingga sapi angus banyak dimanfaatkan untuk menghasilkan keturunan yang tidak bertanduk. Bentuk tubuh panjang dan kompak. Sifat keibuannya tinggi dan tidak ada kesulitan saat beranak. Masa pubertas dicapai dalam umur relative dini. Mempunyai kemampuan dalam menurunkan marbling (perlemakan dalam daging) ke anak-anaknya.
Dagingnya padat dan halus sehingga banyak disukai konsumen.
sapi jenis ini yang didatangkan ke Indonesia berasal dari Selandia Baru dan masuk Indonesia tahun 1974
2. SAPI BALI
Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Kekhasan Fisik Sapi Bali
Bali berukuran sedang, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya ramping. Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam legam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri.
Sapi Bali dalam Kehidupan Petani Bali
Sapi Bali merupakan hewan ternak yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat petani di Bali.
• Sapi Bali sebagai tenaga kerja pertanian
Sapi Bali sudah dipelihara secara turun menurun oleh masyarakat petani Bali sejak zaman dahulu. Petani memeliharanya untuk membajak sawah dan tegalan, untuk menghasilkan pupuk kandang yang berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian.
• Sapi Bali sebagai sumber pendapatan
Sapi Bali mempunyai sifat subur, cepat beranak, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, dapat hidup di lahan kritis, dan mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan. Keunggulan lain yang sudah dikenal masyarakat adalah persentase karkas yang tinggi, juga mempunyai harga yang stabil dan bahkan setiap tahunnya cenderung meningkat membuat sapi Bali menjadi sumber pendapatan yang diandalkan oleh petani.
• Sapi Bali sebagai sarana upacara keagamaan
Dalam agama Hindu, sapi dipakai dalam upacara butha yadnya sebagai caru, yaitu hewan korban yang mengandung makna pembersihan. Demikian juga umat Muslim juga membutuhkan sapi untuk hewan Qurban pada hari raya Idhul Adha.
• Sapi bali sebagai hiburan dan obyek pariwisata
Sapi Bali juga dapat dipakai dalam sebuah atraksi yang unik dan menarik. Atraksi tersebut bahkan mampu menarik minat wisatawan manca negara untuk menonton. Atraksi tersebut adalah megembeng ( di kabupaten Jembrana) dan gerumbungan (di kabupaten Buleleng).
3. SAPI BRAHMAN
Sapi
Brahman adalah keturunan sapi Zebu atau Boss Indiscuss. Aslinya berasal
dari India kemudian masuk ke Amerika pada tahun 1849 berkembang pesat
di Amerika, Di AS, sapi Brahman dikembangkan untuk diseleksi dan
ditingkatkan mutu genetiknya. Setelah berhasil, jenis sapi ini diekspor
ke berbagai negara. Dari AS, sapi Brahman menyebar ke Australia dan
kemudian masuk ke Indonesia pada tahun 1974.
Persentase
karkasnya 45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap
pakan yang diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun
akan dimakannya, termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini
juga lebih kebal terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.
Sapi ini juga berkembang biak di Australia. Bahkan, para pembibit sapi di Australia melakukan persilangan sapi Brahman dengan bangsa sapi lainnya seperti Simmental, Herefod dan Limousin, hasilnya dikenal dengan nama sapi Brahman Cross, yang sejak tahun 1985 sudah masuk ke Indonesia melalui program bantuan Asian Development Bank (ADB). Sapi ini cocok dikembangkan di Indonesia yang beriklim tropis.
Sapi Brahman Cross pada awalnya merupakan bangsa sapi Brahman Amerika yang diimpor Australia pada tahun 1933. Mulai dikembangkan di stasiun CSIRO’s Tropical Cattle Research Centre Rockhampton Australia, dengan materi dasar sapi Brahman, Hereford dan Shorthorn dengan proporsi darah berturut-turut 50%, 25% dan 25% (Turner, 1977), sehingga secara fisik bentuk fenotip dan keistimewaan sapi Brahman cross cenderung lebih mirip sapi Brahman Amerika karena proporsi darahnya lebih dominan.
Sapi Brahman Cross mulai diimport Indonesia (Sulawesi) dari Australia pada tahun 1973. Hasil pengamatan di Sulawesi Selatan menunjukkan persentase beranak 40,91%, Calf crops 42,54%, mortalitas pedet 5,93, mortalitas induk 2,92%, bobot sapih (8-9 bulan) 141,5 Kg (jantan) dan 138,3 Kg betina, pertambahan bobot badan sebelum disapih sebesar 0,38 Kg/ hari (Hardjosubroto, 1984)

Pada tahun 1975, sapi Brahman cross didatangkan ke pulau Sumba dengan tujuan utama untuk memperbaiki mutu genetik sapi Ongole di pulau Sumba. Importasi Brahman cross dari Australia untuk UPT perbibitan (BPTU Sembawa) dilakukan pada tahun 2000 dan 2001 dalam rangka revitalisasi UPT. Penyebaran di Indonesia dilakukan secara besar-besaran mulai tahun 2006 dalam rangka mendukung program percepatan pencapaian swasembada daging sapi 2010.
4. SAPI BIX 9BRAHMAN CROSS)

Sapi
Limousin adalah bangsa Bos turus (Talib dan Siregar, 1999),
dikembang-kan pertama di Perancis, merupakan tipe sapi pedaging dengan
perototan yang lebih baik dari Simmental, warna bulu coklat tua kecuali
disekitar ambing berwarna putih serta lutut kebawah dan sekitar mata
berwarna lebih muda
Bentuk tubuh sapi jenis ini adalah besar, panjang, padat dan kompak.
Keunggulan dari jenis sapi ini pertumbuhan baannya yang sangat cepat
Demikian pula majalah dan media peternakan lain, sering menjadikannya sebagai ulasan utama dalam setiap penerbitan. Apalagi ketika beberapa waktu yang lalu, presiden SBY juga memilih sapi jenis ini untuk dijadikan binatang kurban ketika merayakan Hari Raya Idhul Adha. Setiap peternak sapi pun sering membicarakannya.
Meski harganya lebih mahal, namun dari hari ke hari permintaan hasil ternak sapi limosin ini justru makin meningkat. Bahkan para peternak dan pedagang sering merasa kewalahan untuk memenuhi setiap pesanan yang masuk, karena stok dan suplainya masih sangat terbatas. Untuk itu bagi yang ingin membuka usaha peternakan khususnya peternakan sapi pasti tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Keistimewaan Sapi Limosin
Hasil ternak sapi limosin memang punya beberapa keistimewaan tersendiri dibanding dengan sapi ternak jenis lainnya. Keistimewaan paling utama adalah proses pertumbuhannya lebih cepat. Kemudian badan serta ukuran beratnya yang juga lebih tinggi sehingga jumlah dagingnya pasti lebih banyak.
Selain itu kwalitas sapi limosin juga dinilai lebih bagus dan lezat untuk dijadikan makanan. Maka tidak mengherankan bila nilai jual dari sapi jenis ini juga jauh lebih tinggi dan mahal. Sehingga keuntungan yang didapatkan oleh peternak atau pedagang tentu akan lebih banyak.
Keunggulan lain memelihara ternak sapi limosin adalah waktu yang dibutuhkan untuk penggemukan atau pertumbuhannya lebih pendek dan singkat. Dan yang membuat para peternah lebih nyaman adalah, sapi ini juga lebih tahan terhadap serangan berbagai macam penyakit, terutama antraks yang beberapa waktu lalu pernah merajalela dan membuat rugi banyak peternak.
Berternak Sapi Limosin
Teknik memelihara atau ternak sapi limosin sebenarnya tidak berbeda jauh dengan cara memelihara sapi jenis yang lain. Namun memang ada beberapa perbedaan yang perlu mendapat perhatian khusus dari peternak. Misalnya untuk urusan kandang.
Sapi limosin memiliki ukuran lebih besar, maka kandang yang dibutuhkan juga harus lebih luas. Demikian pula dengan kebutuhan pakannya. Meski jenis makanannya sama, namun jumlah yang dibutuhkan tentu lebih banyak pula.
Sedangkan untuk pemilihan bibit untuk ternak sapi limosin unggul pada intinya juga sama. Yaitu pilihlah bibit yang punya ciri ukuran kepala yang lebih besar, bentuk ekor yang pendek dan gepeng serta tanduk yang bersih. Perhatikan pula dengan moncongya. Sapi yang berkwalitas baik pasti punya moncong yang punya warna hitam mengkilat dan selalu menjorok ke depan serta rajin mengeluarkan lendir.
Selain itu yang tidak boleh dilupakan adalah bentuk pantat yang besar dan lebar, lalu tulang bagian punggung yang datar serta mata yang cerah dan terlihat terang. Kulit yang bersih dan mengkilat juga bisa menjadi pertanda bila sapi tersebut dalam kondisi yang sehat.
Dan untuk menjamin keaslian dari binatang ternak sapi limosin tersebut, mintalah jaminan sertifikat yang menyatakan asal usul sapi yang mau kita pelihara. Karena setiap garis keturunan dari sapi ini punya nilai tersendiri. Ada sapi hasil kawin campuran dan ada sapi yang murni keturunan jenis limosin. Jangan sepelekan masalah ini, karena bila sudah besar, baru bisa terlihat keaslian jenisnya.
7. SAOI P.O PERANAKAN ONGOLE
Sapi
PO adalah sapi hasil persilangan antara pejantan sapi Sumba Ongole (SO)
dengan sapi betina lokal di Jawa yang berwarna putih (Anonimus, 2003b).
Saat ini sapi PO yang murni mulai sulit ditemukan, karena telah banyak
di silangkan dengan sapi Brahman, sehingga sapi PO diartikan sebagai
sapi lokal berwarna putih (keabu-abuan), berkelasa dan gelambir. Sapi PO
terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, mempunyai kemampuan
adaptasi yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan, memiliki
tenaga yang kuat dan aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal
setelah ber-anak, jantannya memiliki kualitas semen yang baik
Jenis sapi ini berasal dari Inggris. Sapi shorthorn merupakan jenis sapi dwi guna karena menghasilkan daging dan produksi susunya tinggi.
Tubuh dari shorthorn berwarna merah bata sampai putih atau dawuk merah (roan). Bangsa sapi ini ada yang bertanduk dan tidak bertanduk (polled shorthorn).
Ciri cirinya adalah
Sapi jenis ini sering kali disilangkan dengan jenis sapi brahman dan hereford
9. SAPI SIMBRAH
Sapi
Simbrah merupakan sapi hasil perkawinan silang antara sapi Simental
jantan dan sapi Brahma betina. Persilangan kedua jenis sapi ini mulai
dilakukan pada akhir tahun 1960-an. Selain cocok diternakkan di daerah
berhawa panas, sapi jenis ini juga menghasilkan daging bermutu tinggi
dengan kadar lemak rendah.
Sapi Simbrah betina bisa mencapai berat hidup berkisar 550 sampai 750 kg, sedangkan bobot sapi Simbrah jantan berkisar antara 900 hingga 1250 kg.
Dengan pencapaian berat hidup seperti ini, sapi ini masuk kategori sapi berukuran sedang dan sapi berukuran besar. Sapi ini berwarna dasar merah dengan muka dan lutut ke bawah putih. Namun demikian, ada juga Simbrah berwarna hitam atau merah total. Pada sapi Simbrah berwarna selain hitam, kulit di sekitar mata biasanya berwarna putih atau merah muda.
Sebagai sapi pedaging, sapi Simbrah berotot padat dan besar. Sapi Simbrah jantan lebih besar dibandingkan dengan Simbrah betina. Sapi ini tidak berpunuk. Postur badannya panjang, kokoh, dan berotot. Kaki dan pahanya juga besar dan kokoh. Sapi ini cepat dewasa kelamin dan tingkat kesuburannya tinggi baik pada sapi jantan maupun betina. Pada umur 14 sampai 15 bulan, sapi ini sudah bisa dikawinkan. Namun demikian, usia ideal untuk menghasilkan anak adalah 2 tahun. Sapi Simbrah betina bisa tetap produktif sampai usia 15 tahun atau lebih. Sapi ini tergolong sapi yang waspada dan sapi betina sangat melindungi anaknya.
Referensi:
http://www.cattle-today.com/Simbrah.php
http://www.jhcranch.com/index.html
10. SAPI SIMMENTAL
Sapi
Simmental adalah Bangsa Bos taurus (Talib dan Siregar, 1999), berasal
Simme Dari Daerah di Negara Swiss tetapi sekarang berkembang lebih Cepat
di Benua Eropa dan Amerika, merupakan tipe sapi perah dan pedaging,
warna bulu coklat kemerahan (merah bata), dibagian muka dan lutut
kebawah Serta Ujung ekor ber warna putih, sapi jantan dewasanya Mampu
mencapai vehicles badan 1150 kg sedang Betina dewasanya 800 kg
Bentuk tubuhnya Kekar dan Berotot, sapi jenis dan suami sangat cocok di pelihara di Tempat yang sedang iklimnya.
Batas karkas sapi jenis dan Suami Tinggi, mengandung sedikit lemak.Dapat difungsikan sebagai sapi perah dan potong.
Secara genetik, sapi Simmental adalah sapi potong Dingin Wilayah Yang berasal Dari beriklim, merupakan sapi tipe Besar, mempunyai volume rumen Yang Besar, asupan sukarela (Menambah kebutuhan konsumsi diluar kemampuan sebenarnya yang) Yang Tinggi dan tingkat metabolisme Yang Cepat, sehingga menuntut tata Laksana Pemeliharaan Yang lebih teratur.
Simmental dapat ditelusuri ke Bernese Oberland, dan dikenal sebagai awal Abad Pertengahan sebagai besar, ternak melihat. Dari sini, tersebar 'Simmentals' ke Swiss barat dan utara.
The Simmental, salah satu yang lebih jinak dan mudah untuk mengelola keturunan, dikenal untuk Topline lurus panjang dengan sangat berotot punggung dan pinggang. Sedang untuk ternak besar dengan tulang yang kuat, sapi biasanya memiliki berat badan 2200-2800 pounds pada saat jatuh tempo dan sapi 1200-1600 pound. Perempuan yang memiliki masa produktif 10-12 tahun dan produksi susu tinggi. Simmental yang terlihat, kadang-kadang hanya dengan beberapa tanda-tanda putih. Warna bervariasi dari emas pucat ke coklat kemerahan gelap. Kepala biasanya putih di depan mata dengan bagian bawah kaki juga sebagian besar putih. Dalam feedyard mereka memiliki berat badan 2 sampai £ 3 hari dan konversi pakan yang sangat baik dengan persentase karkas sekitar 63%. Mereka cocok untuk semua tujuan-persimpangan dengan keturunan yang lebih kecil.
Sapi aberdeen Angus Berasal dari suatu daerah dataran tinggi Abardeen Shire dan Aungushire di Skotlandia, kemudian popular dengan sebutan Aberdeen Angus. Ciri khas sapi ini berkulit hitam pekat sehingga namanya mudah diingat dengan sebutan sapi Angus karena dalam bahasa Indonesia Angus=hangus, gosong.
Sapi ini tidak bertanduk dan berpunuk. Penampilannya pendek, bulat, lincah aktif bergerak. Bobot sapi betina dewasa mencapai 550-750 kg, sedangkan yang jantan mencapai 800-1.000 kg.
Bangsa sapi ini banyak digunakan pada crossbreeding dan grading up untuk menghasilkan sapi potong yang baik. Jika sesame bangsa sapi angus dikawinkan dengan seperempat dari keturunannya, warna tubuhnya akan berubah menjadi merah dan tidak bertanduk (red angus).
Sifat sapi Aberdeen Angus adalah Dominan. Sehingga sapi angus banyak dimanfaatkan untuk menghasilkan keturunan yang tidak bertanduk. Bentuk tubuh panjang dan kompak. Sifat keibuannya tinggi dan tidak ada kesulitan saat beranak. Masa pubertas dicapai dalam umur relative dini. Mempunyai kemampuan dalam menurunkan marbling (perlemakan dalam daging) ke anak-anaknya.
Dagingnya padat dan halus sehingga banyak disukai konsumen.
sapi jenis ini yang didatangkan ke Indonesia berasal dari Selandia Baru dan masuk Indonesia tahun 1974
2. SAPI BALI
Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Kekhasan Fisik Sapi Bali
Bali berukuran sedang, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya ramping. Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam legam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri.
Sapi Bali merupakan hewan ternak yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat petani di Bali.
• Sapi Bali sebagai tenaga kerja pertanian
Sapi Bali sudah dipelihara secara turun menurun oleh masyarakat petani Bali sejak zaman dahulu. Petani memeliharanya untuk membajak sawah dan tegalan, untuk menghasilkan pupuk kandang yang berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian.
• Sapi Bali sebagai sumber pendapatan
Sapi Bali mempunyai sifat subur, cepat beranak, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, dapat hidup di lahan kritis, dan mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan. Keunggulan lain yang sudah dikenal masyarakat adalah persentase karkas yang tinggi, juga mempunyai harga yang stabil dan bahkan setiap tahunnya cenderung meningkat membuat sapi Bali menjadi sumber pendapatan yang diandalkan oleh petani.
• Sapi Bali sebagai sarana upacara keagamaan
Dalam agama Hindu, sapi dipakai dalam upacara butha yadnya sebagai caru, yaitu hewan korban yang mengandung makna pembersihan. Demikian juga umat Muslim juga membutuhkan sapi untuk hewan Qurban pada hari raya Idhul Adha.
• Sapi bali sebagai hiburan dan obyek pariwisata
Sapi Bali juga dapat dipakai dalam sebuah atraksi yang unik dan menarik. Atraksi tersebut bahkan mampu menarik minat wisatawan manca negara untuk menonton. Atraksi tersebut adalah megembeng ( di kabupaten Jembrana) dan gerumbungan (di kabupaten Buleleng).
3. SAPI BRAHMAN
Ciri khas sapi Brahman adalah berpunuk
besar dan berkulit longgar, gelambir dibawah leher sampai perut lebar
dengan banyak lipatan-lipatan. Telinga panjang menggantung dan berujung
runcing. Sapi ini adalah tipe sapi potong terbaik untuk dikembangkan.
Sapi ini juga berkembang biak di Australia. Bahkan, para pembibit sapi di Australia melakukan persilangan sapi Brahman dengan bangsa sapi lainnya seperti Simmental, Herefod dan Limousin, hasilnya dikenal dengan nama sapi Brahman Cross, yang sejak tahun 1985 sudah masuk ke Indonesia melalui program bantuan Asian Development Bank (ADB). Sapi ini cocok dikembangkan di Indonesia yang beriklim tropis.
Sapi Brahman Cross pada awalnya merupakan bangsa sapi Brahman Amerika yang diimpor Australia pada tahun 1933. Mulai dikembangkan di stasiun CSIRO’s Tropical Cattle Research Centre Rockhampton Australia, dengan materi dasar sapi Brahman, Hereford dan Shorthorn dengan proporsi darah berturut-turut 50%, 25% dan 25% (Turner, 1977), sehingga secara fisik bentuk fenotip dan keistimewaan sapi Brahman cross cenderung lebih mirip sapi Brahman Amerika karena proporsi darahnya lebih dominan.
Sapi Brahman Cross mulai diimport Indonesia (Sulawesi) dari Australia pada tahun 1973. Hasil pengamatan di Sulawesi Selatan menunjukkan persentase beranak 40,91%, Calf crops 42,54%, mortalitas pedet 5,93, mortalitas induk 2,92%, bobot sapih (8-9 bulan) 141,5 Kg (jantan) dan 138,3 Kg betina, pertambahan bobot badan sebelum disapih sebesar 0,38 Kg/ hari (Hardjosubroto, 1984)
Pada tahun 1975, sapi Brahman cross didatangkan ke pulau Sumba dengan tujuan utama untuk memperbaiki mutu genetik sapi Ongole di pulau Sumba. Importasi Brahman cross dari Australia untuk UPT perbibitan (BPTU Sembawa) dilakukan pada tahun 2000 dan 2001 dalam rangka revitalisasi UPT. Penyebaran di Indonesia dilakukan secara besar-besaran mulai tahun 2006 dalam rangka mendukung program percepatan pencapaian swasembada daging sapi 2010.
- Jarak beranak 531,1 hari
- Berat Lahir 26,26 Kg
- Berat Sapih 100,1 Kg
- Berat Setahun 289,5 Kg
4. SAPI BIX 9BRAHMAN CROSS)
Sapi BX (baca : Brahman Cross), adalah
ternak sapi hasil domestikasi/ penjinakan sapi Brahman (asal India) yang
dikembangkan di Amerika dan Australia dan disilangkan dengan jenis
ternak dari daratan Amerika, seperti Shorthorn, Santa Gertrudis,
Droughmaster, Hereford. Hasil silangan ini juga menjadi pejantan untuk
mengawini induk Brahman sehingga campuran darah dalam setiap keturunan
sangat bervariasi. Model yang diterapkan dalam pelaksanaan pengembangan
sapi Brahman Cross adalah menghasilkan ternak sapi yang memiliki
pertumbuhan baik dan tahan terhadap iklim tropis serta penyakit/hama
penyebab penyakit, kutu dan tunggau Di Australia yang nota bene masih
memiliki kondisi lahan yang menunjang pemeliharaan ternak model savanna
dan pertumbuhan legume yang baik pada lahan savanna, menyebabkan biaya
pakan sangat ekonomis, peternak hanya memberikan sedikit pakan penguat
dan melakukan sedikit aktifitas lebih berat saat penyimpanan makanan
untuk persediaan musim dingin.Perkawinan alam, penanganan kelahiran yang
alami, biaya pakan yang ekonomis, penggunaan tenaga kerja yang efisien,
penggunaan alat beratyang mempermudah pelaksanaan usaha menyebabkan
perkembangan ternak ini sangat cepat dan efisien. Harga yang
ditawarkanpun menjadi sangat kompetitif, biaya antar ternak – biaya
handling – ditambah keuntungan peternak masih berada dibawah harga beli
masyarakat Indonesia. Ditambah dengan pangsa pasar Negara ini yang
berjargon “yang pentingdaging”, maka penjualan daging jenis apapun
sangat mudah, meski ada beberapa usaha makanan asal daging yang
menerapkan syarat tertentu (penjual daging veal, prime beefmeat) Sapi
local Kita namakan sapi local karena kita anggap bahwa sapi itu bukan
sapi impor … sesungguhnya ternak itu merupakan perkembangan dari
beberapa jenis ternak sapi potong yang pernah diimpor Indonesia pada
masa lalu dan dikembangkan secara terbatas oleh peternak terbatas
(petani) sehingga berkembang menjadi peternakan rakyat. Jenis sapi yang
dikembangkan merupakan jenis sapi asal Eropa yang memiliki karakteristik
khusus, juga jenis Bos Bibos (banteng, seperti sapi Bali, sapi Madura)
serta silangan langsung dari sapi India Pola pemeliharaan pada
peternakan rakyat di Indonesia, juga sangat bervariasi. Beberapa tujuan
beternak : 1. Sebagai tabungan 2. Sebagai tanda status/gengsi 3. Sebagai
usaha sampingan 4. Sebagai tanda budaya 5. Sebagai hobby 6. Sebagai
usaha ternak terbatas Berdasarkan hal ini, maka peternakan jenis ini
memiliki model atau tataniaga yang berbeda dengan penjualan Brahman
Cross, beberapa hal yang menjadi pertimbangan perbedaan model tataniaga :
1. Harga bukan didasarkan pada bobot badan. Kebanyakan harga akan
didasarkan pada kondisi tubuh ternak/performance, sehingga timbul
istilah penjualan model taksir (baca : jogrog) 2. Harga ditentukan oleh
mekanisme tawar menawar yang sangat ketat dan dipengaruhi budaya
masyarakat setempat. Misalnya menjelang tahun ajaran baru, harga sapi
akan terkoreksi negatif cukup signifikan. Tetapi, saat panen tembakau,
misalnya seperti di wilayah Temanggung, maka harga ternak dan komoditas
lain menjadi terkoreksi positif cukup terasa 3. Jenis/kualitas daging,
daging sapi jenis ini berbeda dengan sapi Brahman Cross. Kualitas serat
yang melahirkan taste dan flavor berbeda menjadikan harga/kg daging sapi
jenis ini sedikit lebih tinggi. Penggunaan daging jenis ini juga
berbeda, daging sapi Bali, misalnya … sangat enak bila dibuat dendeng
karena karakteristik seratnya, bila daging sapi BX, maka dendeng akan
hancur (hanya menjadi bubur daging), juga bila dibuat abon atau baso 4.
Kondisi khusus, misalnya ada peternak yang memiliki ternak sapi dengan
tanda khusus atau berciri khusus atau berbobot badan khusus atau
berpenampilan khusus, maka harga yang akan disepakati adalah harga yang
sangat special. Tengok saat kontes ternak, sapi Brahman Cross dengan
bobot 1.000 kg mungkin akan kalah menarik dengan Simmental yang berbobot
800 kg tetapi memiliki buku ikal yang kental, warna putih hanya ada
pada muka, keempat kaki sebatas lutut kebawah dan sedikit dibawah tubuh
serta surai ekor. Berkaca dari kedua hal tersebut diatas, adalah sangat
naïf manakala kita sebagai insan peternakan saling menghujat. Masing”
peternak BX dan non BX memiliki alas an tersendiri dalam menjalankan
usaha ternaknya. Andaikan tataniaga daging dan manajemen usaha ternak
sapi potong kita diatur oleh pemerintah dengan baik, misalnya grading
daging, segmentasi pasar, edukasi kepada masyarakat tentang jenis dan
kualitas daging, peningkatan daya beli masyarakat melalui peningkatan
ekonomi rakyat, mengendalikan kemudahan impor ternak dan daging beku,
bimbingan – latihan – arahan pelaksanaan breeding yang diatur sedemikian
rupa, peningkatan kualitas pemeliharaan, teknologi pakan ternak dan
reproduksi serta hal” yang berkenaan dengan usaha ternak sapi potong
yang ideal, bukan tidak mungkin seluruh peternak Indonesia berada pada
suatu wadah yang ideal, berada pada zona bisnis yang saling
menguntungkan dan mampu mewujudkan cita” bersama … SWASEMBADA DAGING
SUMBER: ekabees
5. SAPI HEREFORD
Bangsa sapi Suami berasal Dari Hereford (Inggris) dan dikenal sebagai
sapi wajah putih. Terdapat doa Bangsa Hereford, yaitu sapi Hereford
bertanduk Yang merupakan Bangsa sapi Hereford asli dan regular tidak
bertanduk (polling Hereford). Tubuh sapi Hereford berwarna merah Artikel
Baru Name of muka, dada, Name of Perut Bawah, Bawah Name of kesemek,
dan rambut ekor berwarna putih. Ukuran sedang tubuhnya, tingkat
pertumbuhannya Sangat Cepat dan produktivitasnya Juga tinggi.Tingkat
ketahanan dan kemampuan KESAWAN merumput Baik baik.Tempramennya
terbilang, Tulang KUAT dan perdagingannya tebal.Sapi Suami disilangkan
Artikel Baru Juga jenis dan sapi Brahman sehingga menghasilkan jenis dan
Brahman Cross. Suami adalah jenis dan Sapi sapi potong atau pedaging.
Herefords adalah berkembang biak kuno, disimpan di Herefordshire di Inggris barat selama berabad-abad. Mereka mendapatkan penampilan modern mereka sekitar 1800 oleh persimpangan dengan sapi dari Flanders. Awalnya, Herefords besar-besar sapi draft dibingkai, beberapa berat lebih dari 3.000 kilogram. Selama abad kesembilan belas ada pembiakan selektif untuk jatuh tempo awal, yang berarti pengurangan dalam ukuran dari frame. Buku kawanan pertama diterbitkan pada tahun 1846, dan kemudian diadopsi oleh 'Hereford Herd Buku Masyarakat', yang didirikan pada tahun 1878.
Hereford adalah sapi dibingkai sedang dengan warna tubuh merah khas dengan kepala dan depan leher, dada, bawah, dan beralih pada putih. Mereka telah berkembang dengan baik kedepan-perempat, sebuah Sandung lamur dalam, kepala yang luas dan kaki kekar. Sebagian besar hewan memiliki tanduk pendek yang tebal biasanya kurva down di bagian sisi kepala, tetapi ada ketegangan yang disurvei di Amerika Utara dan Inggris (polling Hereford).
Herefords umumnya jinak dan ternak berkembang cepat dengan kualitas daging sapi yang baik.
Herefords adalah berkembang biak kuno, disimpan di Herefordshire di Inggris barat selama berabad-abad. Mereka mendapatkan penampilan modern mereka sekitar 1800 oleh persimpangan dengan sapi dari Flanders. Awalnya, Herefords besar-besar sapi draft dibingkai, beberapa berat lebih dari 3.000 kilogram. Selama abad kesembilan belas ada pembiakan selektif untuk jatuh tempo awal, yang berarti pengurangan dalam ukuran dari frame. Buku kawanan pertama diterbitkan pada tahun 1846, dan kemudian diadopsi oleh 'Hereford Herd Buku Masyarakat', yang didirikan pada tahun 1878.
Hereford adalah sapi dibingkai sedang dengan warna tubuh merah khas dengan kepala dan depan leher, dada, bawah, dan beralih pada putih. Mereka telah berkembang dengan baik kedepan-perempat, sebuah Sandung lamur dalam, kepala yang luas dan kaki kekar. Sebagian besar hewan memiliki tanduk pendek yang tebal biasanya kurva down di bagian sisi kepala, tetapi ada ketegangan yang disurvei di Amerika Utara dan Inggris (polling Hereford).
Herefords umumnya jinak dan ternak berkembang cepat dengan kualitas daging sapi yang baik.
6. SAPI LIMOUSIN
Bentuk tubuh sapi jenis ini adalah besar, panjang, padat dan kompak.
Keunggulan dari jenis sapi ini pertumbuhan baannya yang sangat cepat
Secara genetik, sapi Limousin adalah
sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, merupakan sapi
tipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake
(kemampuan menambah konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang
tinggi dan metabolic rate yang cepat, sehingga menuntut tata laksana
pemeliharaan yang lebih teratur. Di Indnesia sapi limousin disilangkan
dengan berbagai jenis sapi lain, seperti misalnya dengan sapi peranakan
ongole, sapi brahman atau sapi hereford
Sapi limosin diprediksi akan populer dan
menjadi primadona baru di dunia industri peternakan. Semua orang yang
bergerak di usaha penggemukan sapi mulai sering membicarakan sapi ini.Demikian pula majalah dan media peternakan lain, sering menjadikannya sebagai ulasan utama dalam setiap penerbitan. Apalagi ketika beberapa waktu yang lalu, presiden SBY juga memilih sapi jenis ini untuk dijadikan binatang kurban ketika merayakan Hari Raya Idhul Adha. Setiap peternak sapi pun sering membicarakannya.
Meski harganya lebih mahal, namun dari hari ke hari permintaan hasil ternak sapi limosin ini justru makin meningkat. Bahkan para peternak dan pedagang sering merasa kewalahan untuk memenuhi setiap pesanan yang masuk, karena stok dan suplainya masih sangat terbatas. Untuk itu bagi yang ingin membuka usaha peternakan khususnya peternakan sapi pasti tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Keistimewaan Sapi Limosin
Hasil ternak sapi limosin memang punya beberapa keistimewaan tersendiri dibanding dengan sapi ternak jenis lainnya. Keistimewaan paling utama adalah proses pertumbuhannya lebih cepat. Kemudian badan serta ukuran beratnya yang juga lebih tinggi sehingga jumlah dagingnya pasti lebih banyak.
Selain itu kwalitas sapi limosin juga dinilai lebih bagus dan lezat untuk dijadikan makanan. Maka tidak mengherankan bila nilai jual dari sapi jenis ini juga jauh lebih tinggi dan mahal. Sehingga keuntungan yang didapatkan oleh peternak atau pedagang tentu akan lebih banyak.
Keunggulan lain memelihara ternak sapi limosin adalah waktu yang dibutuhkan untuk penggemukan atau pertumbuhannya lebih pendek dan singkat. Dan yang membuat para peternah lebih nyaman adalah, sapi ini juga lebih tahan terhadap serangan berbagai macam penyakit, terutama antraks yang beberapa waktu lalu pernah merajalela dan membuat rugi banyak peternak.
Berternak Sapi Limosin
Teknik memelihara atau ternak sapi limosin sebenarnya tidak berbeda jauh dengan cara memelihara sapi jenis yang lain. Namun memang ada beberapa perbedaan yang perlu mendapat perhatian khusus dari peternak. Misalnya untuk urusan kandang.
Sapi limosin memiliki ukuran lebih besar, maka kandang yang dibutuhkan juga harus lebih luas. Demikian pula dengan kebutuhan pakannya. Meski jenis makanannya sama, namun jumlah yang dibutuhkan tentu lebih banyak pula.
Sedangkan untuk pemilihan bibit untuk ternak sapi limosin unggul pada intinya juga sama. Yaitu pilihlah bibit yang punya ciri ukuran kepala yang lebih besar, bentuk ekor yang pendek dan gepeng serta tanduk yang bersih. Perhatikan pula dengan moncongya. Sapi yang berkwalitas baik pasti punya moncong yang punya warna hitam mengkilat dan selalu menjorok ke depan serta rajin mengeluarkan lendir.
Selain itu yang tidak boleh dilupakan adalah bentuk pantat yang besar dan lebar, lalu tulang bagian punggung yang datar serta mata yang cerah dan terlihat terang. Kulit yang bersih dan mengkilat juga bisa menjadi pertanda bila sapi tersebut dalam kondisi yang sehat.
Dan untuk menjamin keaslian dari binatang ternak sapi limosin tersebut, mintalah jaminan sertifikat yang menyatakan asal usul sapi yang mau kita pelihara. Karena setiap garis keturunan dari sapi ini punya nilai tersendiri. Ada sapi hasil kawin campuran dan ada sapi yang murni keturunan jenis limosin. Jangan sepelekan masalah ini, karena bila sudah besar, baru bisa terlihat keaslian jenisnya.
7. SAOI P.O PERANAKAN ONGOLE
Cirinya
berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir
dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan
dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.
8. SAPI SHORTHORN
Jenis sapi ini berasal dari Inggris. Sapi shorthorn merupakan jenis sapi dwi guna karena menghasilkan daging dan produksi susunya tinggi.
Tubuh dari shorthorn berwarna merah bata sampai putih atau dawuk merah (roan). Bangsa sapi ini ada yang bertanduk dan tidak bertanduk (polled shorthorn).
Ciri cirinya adalah
- Kepalanya pendek dan lebar
- Tanduknya pendek mengarah ke samping dan ujungnya mengarah ke depan
- Lehernya pendek dan besar
- Bidang dada samping dan dada rataBahunya lebar, berdaging tebal dan kuat, rusuknya melengkung lebar
- Garis punggungnya lurus dan sampai pangkal ekor, pinggang lebar
- Tubuhnya besar, badan samping rata
- Warnanya merah tua sampai putih
Sapi jenis ini sering kali disilangkan dengan jenis sapi brahman dan hereford
9. SAPI SIMBRAH
Sapi Simbrah betina bisa mencapai berat hidup berkisar 550 sampai 750 kg, sedangkan bobot sapi Simbrah jantan berkisar antara 900 hingga 1250 kg.
Dengan pencapaian berat hidup seperti ini, sapi ini masuk kategori sapi berukuran sedang dan sapi berukuran besar. Sapi ini berwarna dasar merah dengan muka dan lutut ke bawah putih. Namun demikian, ada juga Simbrah berwarna hitam atau merah total. Pada sapi Simbrah berwarna selain hitam, kulit di sekitar mata biasanya berwarna putih atau merah muda.
Sebagai sapi pedaging, sapi Simbrah berotot padat dan besar. Sapi Simbrah jantan lebih besar dibandingkan dengan Simbrah betina. Sapi ini tidak berpunuk. Postur badannya panjang, kokoh, dan berotot. Kaki dan pahanya juga besar dan kokoh. Sapi ini cepat dewasa kelamin dan tingkat kesuburannya tinggi baik pada sapi jantan maupun betina. Pada umur 14 sampai 15 bulan, sapi ini sudah bisa dikawinkan. Namun demikian, usia ideal untuk menghasilkan anak adalah 2 tahun. Sapi Simbrah betina bisa tetap produktif sampai usia 15 tahun atau lebih. Sapi ini tergolong sapi yang waspada dan sapi betina sangat melindungi anaknya.
Referensi:
http://www.cattle-today.com/Simbrah.php
http://www.jhcranch.com/index.html
10. SAPI SIMMENTAL
Bentuk tubuhnya Kekar dan Berotot, sapi jenis dan suami sangat cocok di pelihara di Tempat yang sedang iklimnya.
Batas karkas sapi jenis dan Suami Tinggi, mengandung sedikit lemak.Dapat difungsikan sebagai sapi perah dan potong.
Secara genetik, sapi Simmental adalah sapi potong Dingin Wilayah Yang berasal Dari beriklim, merupakan sapi tipe Besar, mempunyai volume rumen Yang Besar, asupan sukarela (Menambah kebutuhan konsumsi diluar kemampuan sebenarnya yang) Yang Tinggi dan tingkat metabolisme Yang Cepat, sehingga menuntut tata Laksana Pemeliharaan Yang lebih teratur.
Simmental dapat ditelusuri ke Bernese Oberland, dan dikenal sebagai awal Abad Pertengahan sebagai besar, ternak melihat. Dari sini, tersebar 'Simmentals' ke Swiss barat dan utara.
The Simmental, salah satu yang lebih jinak dan mudah untuk mengelola keturunan, dikenal untuk Topline lurus panjang dengan sangat berotot punggung dan pinggang. Sedang untuk ternak besar dengan tulang yang kuat, sapi biasanya memiliki berat badan 2200-2800 pounds pada saat jatuh tempo dan sapi 1200-1600 pound. Perempuan yang memiliki masa produktif 10-12 tahun dan produksi susu tinggi. Simmental yang terlihat, kadang-kadang hanya dengan beberapa tanda-tanda putih. Warna bervariasi dari emas pucat ke coklat kemerahan gelap. Kepala biasanya putih di depan mata dengan bagian bawah kaki juga sebagian besar putih. Dalam feedyard mereka memiliki berat badan 2 sampai £ 3 hari dan konversi pakan yang sangat baik dengan persentase karkas sekitar 63%. Mereka cocok untuk semua tujuan-persimpangan dengan keturunan yang lebih kecil.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar